Kesegaran yang terus
dijaga dari kelapa sawit itu adalah adalah parameter SunCo dalam proses
produksi. Tentu saja dilihat dari segi kesehatan. Pengolahan dimulai
tidak lebih dari 24 jam setelah buah sawit dipetik. Ada tiga indicator
yang membuktikan sebagai minyak yang baik.
Pertama. Warna minyak yang
lebih bening. Karena melalui 5 tahapan yakni 3 kali proses penyaringan dan 2
kali proses pemurnian.
Mengapa SunCo bisa bening?
Kelapa sawit yang segar adalah kunci minyak goreng yang bening. Semakin bening
minyak goreng maka saat digunakan untuk menggoreng minyak tidak cepat menjadi
hitam / teroksidasi, sehingga meminimalkan resiko timbulnya kanker pada tubuh
manusia.
Kedua, Minyak itu dapat
diminum. SunCo memang bukan untuk diminum, tetapi untuk membuktikan kualitas
minyak goreng yang baik dapat dibuktikan dengan uji organoleptic, yakni dengan
dimasukkan dan dirasakan di rongga mulut.
Artinya sifat dan karakter
minyak ini seperti air, tidak lekat atau berbau. Minyak mudah mengalir sehingga
tidak menyangkut atau gatal di tenggorokan.
Ketiga. Minyak ini tidak
mudah beku pada suhu rendah. Dengan Buah Kelapa Sawit segar yang langsung
diolah tidak lebih dari 24 jam membuat SunCo menjadi minyak goreng dengan
minyak jenuh terendah dibanding yang lainnya, sehingga SunCo tidak mudah beku dan
meminimalkan peningkatan kolesterol.
Test Dilakukan di Climacell
(alat pendingin) dengan suhu 2 ÂșC dengan waktu 1 jam 41 menit 36 detik,
terbukti SunCo tidak mudah beku dibanding Minyak Goreng ber-merk lainnya.
SunCo adalah minyak goreng
pertama dengan For tifikasi Vitamin A dari Jerman, Vitamin A tidak hilang pada
waktu dipanaskan. Ini bisa dibuktikan dengan alat uji (teknologi dari Jerman).
Vitamin A yang ada ini
mengandung nutrisi penting bagi tubuh, yang berfungsi meningkatkan imunitas
tubuh sehingga mencegah terkena penyakit.
Tentang Produk
Tanaman kelapa sawit (Elaeis
guineensis) berasal dari Afrika Barat, merupakan tanaman penghasil utama
minyak nabati yang mempunyai produktivitas lebih tinggi dibandingkan tanaman
penghasil minyak nabati lainnya. Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di
Indonesia oleh pemerintahan Belanda pada tahun 1848.
Awalnya tanaman kelapa sawit
dibudidayakan sebagai tanaman hias, sedangkan pembudidayaan tanaman untuk
tujuan komersial baru dimulai pada tahun 1911.
Perintis usaha perkebunan kelapa sawit
di Indonesia adalah Adrien Hallet (orang Belgia), kemudian budidaya yang
dilakukannya diikuti oleh K.Schadt yang menandai lahirnya perkebunan kelapa
sawit di Indonesia mulai berkembang.
Minyak sawit dapat digunakan untuk
berbagai macam kegunaan salah satunya sebagai bahan baku minyak goreng karena
keunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi
Bagian yang paling popular untuk diolah
dari kelapa sawit adalah buah. BAgian daging buah menghasilkan minyak kelapa
sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis
turunannya
Minyak goreng yang baik diolah dari buah
kelapa sawit yang segar.
SunCo dibuat dengan teknologi mutakhir
dengan melalui 5 tahapan proses yakni 3 kali proses pemurnian dan 2 kali proses
penyaringan sehingga menghasilkan minyak goreng yang baik dengan bukti-bukti
sebagai berikut:
·BENING. Tidak cepat hitam,
minimalkan resiko kanker
Rahasia beningnya Sunco berasal dari
buah kelapa sawit segar yang langsung diolah. Warna bening adalah bukti minyak
goreng yang baik karena tidak cepat hitam atau teroksidasi sehingga
meminimalkan risiko kanker.
·TIDAK MUDAH BEKU. Kandungan asam
lemak jenuh rendah, hindarkan ancaman kolesterol jahat
Dibandingkan dengan minyak goreng sawit
yang lain Sunco tidak mudah beku. Ini membuktikan bahwa Sunco adalah minyak
goreng dengan kandungan asam lemak jenuh terendah sehingga meminimalkan
peningkatan kolesterol (LDL Kolesterol).
·KARAKTERNYA SEPERTI
AIR. Tidak lekat dan mudah
mengalir
Kualitas minyak goreng dapat dibuktikan
dengan uji organoleptik*. Sunco diolah dari buah kelapa sawit segar maka Sunco
karakternya seperti air, tidak lekat, dan tidak menyerap berlebih di makanan.
Makan lebih nyaman tanpa rasa gatal/serik di tenggorokan.
*Uji organoleptik dilakukan untuk
membuktikan kualitas minyak goreng yang baik secara sensorik.
Pelopor Fortifikasi Vitamin A
SunCo merupakan Pelopor
Minyak goreng dengan Fortifikasi Vitamin A dari Germany sehingga membantu
mencukupi kebutuhan vitamin A bagi tubuh.
Dengan menggunakan alat uji
dari Germany, terbukti vitamin A pada minyak goreng SunCo tidak hilang pada
saat pemanasan dan masih tetap ada setelah penggorengan.
Apakah yang dimaksud dengan FORTIFIKASI ?
FORTIFIKASI adalah suatu
upaya dalam meningkatkan mutu gizi bahan pangan dengan sengaja menambahkan satu
atau lebih zat gizi mikro ( vitamin, mineral, dll ) pada bahan pangan atau
produk pangan.
Apakah Vitamin A
masih tetap ada setelah digunakan untuk menggoreng ?
Vitamin A pada Minyak Goreng
SunCo tidak hilang / rusak setelah digunakan untuk menggoreng,
yang ada hanya BERKURANG.
Bagaimana cara membuktikan
Vitamin A masih tetap ada setelah penggorengan ?
Dengan menggunakan metode
pembuktian yang berasal dari Germany, terbukti Vitamin A pada Minyak Goreng
SunCo masih tetap ada setelah digunakan untuk menggoreng.
Metode yang akurat ini
tentu sangat bisa di pertanggungjawabkan. Metode pengujian ini dilakukan
dengan cara mencampurkan beberapa bahan kimia yang akan menimbulkan perubahan
warna pada minyak goreng yang diuji.
Jika masih terdapat vitamin
A, maka akan memunculkan warna BIRU pada minyak goreng
tersebut.
SunCo saat dilakukan
pembuktian dengan menggunakan metode ini, setelah digunakan untuk menggoreng, terbukti
memunculkan warna BIRU.
sebelum
penggorengan
sesudah
penggorengan 1
sebelum penggorengan
sesudah penggorengan 1
sesudah penggorengan
sesudah penggorengan 3
Berapa banyak Vitamin A yang
masih tetap ada pada SunCo setelah penggorengan ?
Dari percobaan mengoreng yang
dilakukan dengan bekerja sama dengan pihak IPB – Fakultas Ekologi Manusia –
Departemen Gizi Masyarakat, didapatkan bahwa sampai dengan penggorengan III
kadar (retensi) Vitamin A dalam Minyak Goreng yang telah digunakan untuk menggoreng
masih cukup tinggi, perhatikan Grafik di bawah ini:
Uji Organoleptik
Penggunaan Indera
Dalam penilaian bahan pangan sifat yang
menentukan diterima atau tidak suatu produk adalah sifat
indrawinya. Penilaian indrawi ini ada enam tahap yaitu pertama menerima
bahan, mengenali bahan, mengadakan klarifikasi sifat-sifat bahan, mengingat
kembali bahan yang telah diamati, dan menguraikan kembali sifat indrawi produk
tersebut. Indra yang digunakan dalam menilai sifat indrawi suatu produk
adalah:
oPenglihatan yang berhubungan dengan warna kilap, viskositas,
ukuran dan bentuk, volume kerapatan dan berat jenis, panjang lebar dan diameter
serta bentuk bahan.
oIndra peraba yang berkaitan dengan struktur, tekstur dan
konsistensi. Struktur merupakan sifat dari komponen penyusun, tekstur merupakan
sensasi tekanan yang dapat diamati dengan mulut atau perabaan dengan jari, dan
konsistensi merupakan tebal, tipis dan halus.
oIndra pembau, pembauan juga dapat digunakan sebagai suatu
indikator terjadinya kerusakan pada produk, misalnya ada bau busuk yang
menandakan produk tersebut telah mengalami kerusakan.
oIndra pengecap, dalam hal kepekaan rasa , maka rasa manis
dapat dengan mudah dirasakan pada ujung lidah, rasa asin pada ujung dan pinggir
lidah, rasa asam pada pinggir lidah dan rasa pahit pada bagian belakang lidah.
Tujuan Uji Organoleptik
Tujuan diadakannya uji organoleptik
terkait langsung dengan selera. Setiap orang di setiap daerah memiliki
kecenderungan selera tertentu sehingga produk yang akan dipasarkan harus
disesuaikan dengan selera masyarakat setempat. Selain itu disesuaikan pula
dengan target konsumen, apakah anak-anak atau orang dewasa. Tujuan uji
organoleptik adalah untuk:
opengembangan produk dan perluasan pasar
opengawasan mutu → bahan mentah, produk, dan komoditas
operbaikan produk
omembandingkan produk sendiri dengan produk pesaing
oevaluasi penggunaan bahan, formulasi, dan peralatan baru.
Uji Organoleptik di Perusahaan
Uji organoleptik biasa dilakukan
diperusahaan, kegunaannya adalah untuk menilai mutu bahan mentah yang digunakan
untuk pengolahan dan formula yang digunakan untuk menghasilkan
produk. Selain itu, dengan adanya uji organoleptik, produsen dapat mengendalikan
proses produksi dengan menjaga konsistensi mutu dan menetapkan standar tingkat
atau kelas-kelas mutu. Produsen juga dapat meningkatkan keuntungannya
dengan cara mengembangkan produk baru, meluaskan pasaran, atau dengan mengarah
ke segmen pasar tertentu. Dengan uji organoleptik, produsen juga dapat
membandingkan mutu produknya dengan produk pesaingnya sehingga dapat
memperbaiki kekurangan produknya dengan cara menyeleksi bahan mentah atau
formulasi dari berbagai pilihan atau tawaran.
Asam Lemak dalam
produk Minyak tersebut :
Panjang rantai asam lemak pada trigliserida
yang terdapat secara alami dapat bervariasi, namun panjang yang paling umum
adalah 16, 18, atau 20 atom karbon. Asam lemak alami
yang ditemukan pada tumbuhan dan hewan biasanya terdiri dari jumlah atom karbon
yang genap disebabkan cara asam lemak dibiosintesis dari asetil-KoA. Sekalipun begitu, bakteria memiliki kemampuan untuk
menyintesis asam lemak dengan atom karbon ganjil ataupun rantai bercabang.
Karena itu, hewan memamah biak biasanya
memiliki asam lemak berkarbon ganjil, misalnya 15, karena aksi bakteria di
dalam rumennya.
Kebanyakan lemak alami memiliki campuran
kompleks dari berbagai macam trigliserida; karena ini, lemak mencair pada suhu
yang berbeda-beda. Lemak seperti mentegakokoa hanya
terdiri dari beberapa trigliserida, salah satunya mengandung
berturut-turut palmitat,oleat, dan stearat. Hal ini menyebabkan terjadinya titik lebur yang tajam, yang
menyebabkan coklat meleleh dalam mulut tanpa
terasa berminyak.
Pada sel, trigliserida (atau lemak netral)
dapat melalui membran sel dengan
bebas, tidak seperti molekul lainnya, karena karakteristiknya yang non-polar sehingga
tidak bereaksi dengan lapisan ganda fosfolipid pada membran.